Tiga pria yang menjadi saksi mata dalam insiden penembakan fatal oleh petugas imigrasi federal di Houston menyatakan bahwa tidak ada satu pun petugas yang berada dalam posisi terancam. Menurut pernyataan pengacara yang telah berkomunikasi dengan para saksi, pengemudi mobil bernama Lorenzo Salgado Araujo tewas setelah ditembak melalui jendela penumpang oleh petugas U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE).
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan penjelasan pengacara Hugo Balderas-Ibarra dalam sebuah konferensi pers, para saksi menegaskan bahwa pada saat kejadian, tidak ada agen ICE yang berada tepat di depan kendaraan. "Mereka memastikan bahwa tidak ada agen ICE di depan mobil, dan tembakan itu datang dari arah samping, bukan dari depan," ujar Hugo Balderas-Ibarra saat memberikan keterangan kepada media.
Dari pantauan redaksi, Department of Homeland Security (DHS) selaku lembaga yang membawahi ICE, hingga kini belum merilis bukti kuat yang mendukung klaim awal petugas. Pihak otoritas sebelumnya berdalih bahwa Salgado Araujo mengabaikan perintah dan sengaja menabrak mobil ICE dengan van putih miliknya, sehingga petugas terpaksa melepaskan tembakan demi membela diri.
DHS kemudian memberikan pernyataan resmi bahwa petugas ICE sebenarnya sedang mengincar target operasi lain ketika mereka menghentikan kendaraan Salgado Araujo. Anggota DPR Texas, Sylvia Garcia, menambahkan bahwa direktur pelaksana ICE sempat menyampaikan kepadanya bahwa petugas menduga ada seseorang di dalam van tersebut yang memiliki perintah pengusiran akhir, meskipun pihak ICE tidak membagikan nama yang dimaksud.
Lorenzo Salgado Araujo sendiri diketahui merupakan seorang pembangun rumah berusia 52 tahun yang ditembak mati saat sedang mengendarai mobil bersama kru kerjanya menuju lokasi konstruksi. Menurut penuturan pihak keluarga, korban telah tinggal di Amerika Serikat selama lebih dari 35 tahun, tidak memiliki catatan kriminal, dan sebenarnya sudah hampir menyelesaikan proses panjang untuk mendapatkan status hukum legal.
Setelah insiden tersebut, pihak ICE menahan tiga pria lain yang berada di dalam van, termasuk saudara laki-laki dari Salgado Araujo. Hugo Balderas-Ibarra mengungkapkan kekhawatirannya bahwa pihak keagenan akan mencoba menutupi fakta lapangan serta menekan para tahanan untuk menyetujui deportasi mandiri agar kesaksian mereka tidak sampai ke tangan penyidik.
Menurut pengamatan tim redaksi, kasus ini memicu ketegangan horizontal antara otoritas lokal dan federal, terlebih karena petugas ICE dilaporkan tidak mengenakan kamera tubuh (body camera) saat beroperasi. Wali Kota Houston, John Whitmire, menyatakan kekecewaannya dan mendesak adanya penyelidikan independen lokal untuk mengusut tuntas tindakan agensi federal yang dinilai tidak terkendali tersebut.