Organisasi Polisi Kriminal Internasional atau Interpol secara resmi telah merilis identitas seorang wanita asal Ukraina sebagai tersangka utama dalam kasus pengeboman di Monaco. Berdasarkan informasi resmi, aksi teror tersebut diduga kuat sengaja ditargetkan untuk mencelakai seorang magnat atau pengusaha kaya raya asal Ukraina beserta anggota keluarganya.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Melalui pengamatan tim redaksi pada laman resminya, Interpol kini telah memasukkan nama Anastasiia Berezovska, yang berusia 39 tahun, ke dalam daftar buronan internasional atau "Red Notice". Otoritas penegak hukum di Monaco mendakwa Berezovska dengan pasal percobaan pembunuhan serta tindakan kriminal berupa pemasangan perangkat peledak di jalan umum.
Berdasarkan keterangan dari Wakil Jaksa Penuntut Umum Monaco, Morgan Raymon, tersangka diketahui sempat menyamar sebagai seorang pria bertubuh kekar saat melancarkan aksinya. Namun, dari pantauan redaksi terhadap evaluasi rekaman CCTV dan kesaksian saksi mata, penyelidikan akhirnya mengarah pada sosok wanita yang menggunakan penyamaran. Tersangka diketahui memiliki ciri fisik berupa tato bergambar ular dari bahu hingga siku kanan dan mampu berbahasa Jerman.
Menurut penjelasan Morgan Raymon, bom tersebut diledakkan dari jarak jauh menggunakan remote control, dan saat ini sisa-sisa material bom sedang dianalisis secara mendalam di Prancis. Pihak berwenang meyakini bahwa Berezovska, yang tempat tinggal terakhirnya terdeteksi di Jerman, telah melarikan diri melintasi Prancis menuju Italia dengan menggunakan mobil sewaan.
Meskipun otoritas Monaco belum merilis identitas korban secara resmi, media Prancis dan Ukraina melaporkan bahwa serangan tersebut menyasar Vadym Yermolaiev, seorang pengusaha sukses berusia 58 tahun yang kini berkewarganegaraan Siprus. Serangan brutal tersebut juga diduga menargetkan pasangan hidup serta putra Yermolaiev yang masih berusia 13 tahun.
Aksi pengeboman ini mengejutkan publik di negara pesisir Mediterania tersebut, mengingat Monaco dikenal sebagai salah satu negara berdaulat terkecil di dunia dengan tingkat keamanan ketat dan konsentrasi penduduk kaya yang sangat tinggi. Pemimpin Monaco, Pangeran Albert II, mengecam keras peristiwa ini dan menyebutnya sebagai "tindakan yang sangat keji" serta langsung memobilisasi seluruh layanan publik demi menjamin keamanan wilayahnya.