Pelaku industri logistik menilai implementasi biodiesel 50% atau B50 perlu dibarengi dengan kebijakan yang mampu mengimbangi potensi kenaikan biaya operasional kendaraan niaga. Berdasarkan pantauan redaksi, salah satu opsi insentif yang diharapkan oleh para pengusaha adalah penerapan harga bahan bakar yang jauh lebih kompetitif di pasaran.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menurut Sekretaris Jenderal Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Trismawan Sanjaya, penggunaan biodiesel sejak tahap B30 telah menimbulkan kebutuhan penyesuaian teknis pada kendaraan diesel. Dari pengamatan tim redaksi, sebagian besar armada truk yang beroperasi di Indonesia saat ini belum dirancang khusus untuk mengadopsi bahan bakar dengan kandungan campuran nabati yang tinggi.
"Umumnya spesifikasi truk diesel yang diproduksi pabrikan belum secara khusus dirancang untuk bahan bakar biodiesel," kata Trismawan saat memberikan keterangan kepada Katadata.co.id pada Jumat (10/7). Oleh karena itu, pihaknya berharap regulasi anyar ini tidak justru memberatkan para pelaku usaha logistik nasional.
Berdasarkan penjelasan ALFI, perbedaan karakteristik antara minyak bumi dan bahan baku nabati pada biodiesel kerap memicu dampak teknis yang memerlukan perawatan ekstra. Trismawan menyebutkan bahwa harga B50 yang lebih murah sangat dinantikan sebagai kompensasi atas biaya modifikasi serta perawatan tambahan yang terpaksa ditanggung oleh pihak operator angkutan barang.
Di samping masalah teknis kendaraan, ALFI menilai kebijakan B50 tidak serta-merta dapat menghentikan problem kelangkaan solar di lapangan. Menurut pandangan organisasi tersebut, akar masalah kelangkaan lebih dominan bersumber dari buruknya tata kelola distribusi BBM bersubsidi yang masih rentan terhadap aksi penyalahgunaan oleh oknum yang tidak berhak.
Dari pantauan redaksi, program B50 yang resmi bergulir sejak Juli 2026 ini sejatinya memiliki misi strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, bahkan sempat menyatakan dalam peresmian di Cikampek bahwa implementasi B50 diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga Rp 170 triliun.