Jutaan orang dilaporkan tumpah ruah di Ibu Kota Iran, Teheran, sejak Minggu pagi waktu setempat untuk memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang pemimpin mereka. Dari pantauan redaksi, masyarakat Iran bersama warga asing memadati area Musalla Agung Teheran demi menghadiri prosesi salat jenazah Ayatullah Ali Khamenei yang wafat akibat serangan udara.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Dalam prosesi yang berlangsung khidmat sekaligus tegang tersebut, sebagian besar pelayat tampak membawa bendera merah mencolok yang dikibarkan di tengah kepungan massa. Berdasarkan pengamatan tim redaksi di lapangan, bendera tersebut dibawa seraya para pelayat tiada hentinya meneriakkan seruan untuk menuntut balas atas kematian sang pemimpin tertinggi.
Masyarakat Iran yang memadati lokasi upacara bersumpah bahwa kematian Ayatullah Ali Khamenei yang disebabkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel tidak akan dibiarkan berlalu begitu saja. Bendera merah yang mendominasi lautan manusia itu bertuliskan kalimat berbahasa Arab "Ya Litharat al-Hussein" yang berarti "Wahai para pembalas Hussein", sebuah simbol yang berakar sangat kuat dalam tradisi Islam Syiah terkait kemartiran Imam Husain di Karbala.
Menurut tradisi muslim Syiah, pengibaran bendera merah membawa makna mendalam yang menandakan bahwa darah orang tak bersalah telah ditumpahkan secara tidak adil. Simbol ini juga mengisyaratkan kepada dunia bahwa keadilan bagi para korban yang gugur tersebut hingga saat ini masih belum ditegakkan.
Sebagaimana dikutip dari Tasnim, meskipun bendera merah ini biasanya hanya ditampilkan selama upacara berkabung pada bulan Muharram, dalam keadaan luar biasa lambang ini membawa pesan yang lebih luas. Bendera tersebut merepresentasikan pengejaran keadilan serta melambangkan tekad bulat untuk membalas dendam terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kejahatan tersebut.
Menggemakan simbolisme perlawanan itu, para pelayat berulang kali meneriakkan seruan "Balas Dendam! Balas Dendam!" sembari mengangkat tinggi bendera nasional Iran. Selain itu, mereka juga membawa potret mendiang pemimpin mereka, gambar Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei, serta simbol kepalan tangan sebagai bentuk keteguhan sikap.
Massa yang hadir tampak sangat kompak menyatakan kesetiaan mereka seraya mengucapkan selamat tinggal kepada Imam yang telah gugur. Solidaritas luar biasa ini dinilai sebagai sebuah reaksi yang sama sekali tidak diinginkan dan tidak diduga sebelumnya, baik oleh pihak Israel maupun Amerika Serikat.
Berdasarkan analisis situasi, pihak Tel Aviv maupun Pentagon awalnya meyakini bahwa keberhasilan operasi pembunuhan terhadap Ayatullah Ali Khamenei akan langsung membuat internal Iran goyah dan terpecah belah. Namun, fakta di lapangan justru menunjukkan kondisi yang berbanding terbalik dari kalkulasi politik dan militer barat tersebut.
Dari pantauan redaksi, kerumunan massa terus membanjiri Musalla Agung sepanjang hari tanpa putus di tengah lantunan ayat suci Al-Quran dan elegi yang memenuhi ruang salat. Suasana duka yang sangat mendalam tersebut berkelindan erat dengan tumbuhnya tekad yang teguh di kalangan masyarakat yang ditinggalkan.
Ayatullah Ali Khamenei sendiri dilaporkan gugur dalam serangan udara gabungan yang dilancarkan oleh militer AS dan Israel di Teheran pada 28 Februari 2026, yang menandai awal perang agresi 40 hari melawan Republik Islam Iran. Peristiwa pembunuhan tokoh penting ini langsung memicu kecaman keras serta duka cita yang meluas di seluruh wilayah Iran dan Poros Perlawanan.
Para peserta upacara pemakaman secara tegas menggambarkan keberadaan bendera merah tersebut sebagai deklarasi nyata kepada dunia luar. Mereka menegaskan bahwa tuntutan akan keadilan dan pembalasan atas darah Pemimpin yang gugur akan tetap hidup dan terus berkobar.
Menurut pidato resmi yang disampaikan kemarin, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menilai besarnya antusiasme serta kehadiran masif masyarakat dalam prosesi ini mencerminkan kecintaan dan ikatan ideologis yang sangat mendalam dari rakyat kepada mendiang Ayatullah Ali Khamenei.