Menurut laporan resmi dari Department of Homeland Security (DHS), petugas dari Immigration and Customs Enforcement (ICE) yang menembak mati seorang warga negara Meksiko bernama Lorenzo Salgado Araujo di Houston sebenarnya sedang mencari orang lain. Insiden salah target ini terjadi ketika petugas menghentikan kendaraan korban setelah melakukan pengawasan berdasarkan petunjuk yang mereka terima.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Pihak DHS menjelaskan bahwa petugas melihat sebuah van putih dengan individu yang menyerupai target mereka sebelum melakukan penghentian darurat. Dari pantauan redaksi, DHS awalnya mengklaim bahwa Salgado Araujo menjadi target karena tinggal di Amerika Serikat tanpa izin legal, dan ditembak karena mengabaikan perintah serta mencoba menabrak petugas.
Berdasarkan pernyataan keluarga dan seorang anggota kongres Texas, Salgado Araujo sebenarnya sedang membawa pekerja ke lokasi pembangunan rumah saat insiden itu terjadi. Korban diketahui telah tinggal di AS selama lebih dari tiga dekade, tidak memiliki catatan kriminal, dan justru sedang dalam proses untuk mendapatkan izin kerja resmi.
Berdasarkan pengamatan tim redaksi, penyelidikan kasus ini terhambat karena petugas ICE yang melepaskan tembakan tidak mengenakan kamera tubuh (body-worn camera). Juru bicara DHS berdalih bahwa pengadaan kamera tubuh untuk kantor lapangan Houston tertunda akibat serangkaian penghentian operasional pemerintah (government shutdown) yang terjadi sebelumnya.
Menurut keterangan Rafael Lemaitre selaku juru bicara dari Harris County District Attorney's office, pihaknya akan tetap melakukan penyelidikan mandiri terkait penembakan ini. "Meskipun akses terhadap bukti-bukti utama tetap berada di bawah kendali federal, kami mengejar jalur investigasi yang tersedia bagi kami dan akan meninjau informasi apa pun yang dapat kami jangkau," ungkap Lemaitre.
Sementara itu, organisasi League of United Latin American Citizens (LULAC) menyatakan bahwa posisi kendaraan saat kejadian menghalangi rekaman kamera keamanan di sekitar lokasi. LULAC kini menawarkan imbalan sebesar 5.000 dolar AS bagi saksi mata yang memiliki informasi atau bukti video tambahan demi mengungkap kebenaran dalam kasus ini.