Suasana haru menyelimuti sebuah rumah sederhana di Desa Cikawung, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Berdasarkan pantauan redaksi di lokasi, tangis haru Onih pecah ketika cahaya lampu listrik untuk pertama kalinya menerangi kediamannya yang selama sekitar 25 tahun terakhir hanya mengandalkan penerangan dari lampu cempor atau lampu minyak kayu.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Di hadapan Ketua BAZNAS RI Sodik Mudjahid dan warga setempat, Onih tampak gemetar saat menyalakan saklar listrik untuk pertama kalinya. Dari pengamatan tim redaksi, air mata kebahagiaan tidak dapat dibendung oleh wanita tersebut saat melihat seluruh ruangan rumahnya kini menjadi terang benderang.
Menurut Sodik Mudjahid, pihaknya ingin memastikan langsung perubahan yang dialami warga sebelum dan sesudah program ini berjalan. "Jadi selama kurang lebih 25 tahun lampunya di rumah pakai apa tadi?" tanya Sodik kepada pemilik rumah. Pertanyaan tersebut langsung dijawab singkat oleh Onih, "Cempor."
Sodik kemudian menunjukkan lampu cempor yang selama ini menemani keluarga tersebut dalam kegelapan malam. "Jadi selama ini Ibu di rumah pakai cempor ya. Insyaallah kalau sudah terang, insyaallah akan diganti, akan terang. Harapan Ibu apa ke depannya?" kata Sodik memberikan penguatan.
Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, Onih mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas bantuan penerangan ini. "Terima kasih banget sudah terang. Harapannya ke depan supaya lebih sukses, lebih luas, menjangkau yang lain-lain, diridhai Allah," ujarnya dengan penuh takzim.
Menurut pengakuan Onih, aktivitas sehari-hari kini akan menjadi jauh lebih mudah dengan adanya aliran listrik. Selama ini ia tinggal bersama orang tuanya yang sudah lanjut usia, sehingga keberadaan cahaya lampu sangat krusial dalam membantu merawat sang ibu.
"Ya alhamdulillah terima kasih banget. Jadi mau ngaji, mau aktivitas apa pun bisa gitu, mudah. Apalagi punya ibu itu yang sudah tua jadi enak pakai, mau mandi mau apa juga gitu kalau sudah terang. Kalau pakai damar susah, gelap," tutur Onih menjelaskan kesulitan yang dialaminya selama dua dekade lebih.
Berdasarkan data yang dihimpun, Onih merupakan salah satu penerima manfaat dari program Rumah Terang BAZNAS. Program ini memanfaatkan teknologi panel surya ramah lingkungan, sehingga masyarakat kurang mampu dapat mengakses listrik mandiri tanpa bergantung pada jaringan listrik konvensional.
Secara nasional, program Rumah Terang menargetkan bantuan hingga 452 kepala keluarga (KK). Untuk wilayah Indramayu, BAZNAS memfokuskan pemasangan di 103 titik, yang meliputi 102 hunian warga kurang mampu serta satu masjid setempat, agar aktivitas ibadah dan sosial masyarakat dapat berjalan optimal.