Pemerintah Mesir baru-baru ini mengumumkan dua penemuan arkeologi besar yang diharapkan dapat mendongkrak sektor pariwisata vital di negara tersebut. Penemuan luar biasa ini mencakup sebuah kota kediaman kuno dari era Bizantium yang terawat dengan baik di wilayah Gurun Barat, serta kompleks pemakaman kuno di dekat kota pelabuhan Alexandria.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menurut pernyataan resmi dari Tourism and Antiquities Ministry, penemuan pertama di Dakhla Oasis ini mengungkap detail kehidupan sehari-hari, perkembangan kota, dan aktivitas ekonomi pada abad keempat saat Mesir masih menjadi bagian dari Kekaisaran Bizantium. Berdasarkan pantauan redaksi, situs ini menunjukkan tata kota yang sangat terstruktur pada masanya.
Hisham el-Leithy selaku Sekretaris Jenderal Supreme Council of Antiquities menjelaskan bahwa kawasan yang digali tersebut mencakup jalan raya utara-selatan yang dipotong oleh jalan timur-barat, membentuk alun-alun terbuka dan ruang publik. Di lokasi tersebut, tim arkeolog berhasil menonjolkan sisa-sisa arsitektur perkotaan kuno yang sangat bernilai sejarah tinggi.
Ketua misi arkeologi, Mahmoud Massoud mengatakan bahwa sebuah gereja basilika yang berasal dari pertengahan abad keempat berdiri di ujung pemukiman, menghadap langsung ke jalan-jalan utama. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, ditemukan pula struktur berbenteng kuat dengan dinding pertahanan tebal, menara pengawas, serta rumah-rumah penduduk beratap melengkung.
Selain bangunan, para arkeolog menemukan peralatan dapur seperti oven roti dan alat penggiling batu, serta koin perunggu bergambar kaisar Bizantium dan koin emas dari masa pemerintahan Kaisar Romawi Constantius II. Salah satu bangunan yang menarik perhatian adalah rumah milik Tisous, seorang diakon gereja, yang diduga berfungsi sebagai rumah ibadah sebelum basilika kota dibangun.
Secara terpisah, di situs arkeologi Marina el-Alamein yang berjarak sekitar 62 mil di barat Alexandria, tim arkeolog berhasil menemukan 18 makam kuno. Berdasarkan laporan resmi kementerian, penemuan tersebut terdiri dari 11 makam yang dipahat langsung di dalam batu (rock-cut tombs) dengan kedalaman rata-rata 26 kaki, serta tujuh makam permukaan yang dibangun dari batu kapur.
Menurut penjelasan Kepala Misi, Eman Abdel-Khaliq, timnya menemukan sarkofagus granit sepanjang 8 kaki yang berisi sisa-sisa kerangka manusia yang saat ini sedang diteliti secara intensif. Di dekat sarkofagus tersebut, tim juga menemukan patung sphinx dari bahan plester serta empat kepingan emas yang ditempatkan di dalam mulut jenazah, sebuah tradisi kuno yang dikenal sebagai "lidah emas".
Dari pantauan redaksi, penemuan-penemuan bersejarah ini menjadi angin segar bagi industri pariwisata Mesir yang mulai pulih setelah sempat terdampak gejolak politik dan pandemi. Berdasarkan data resmi pemerintah, Mesir mencatat rekor kunjungan hingga 19 juta wisatawan pada tahun lalu, dan tren positif ini terus berlanjut hingga paruh pertama tahun 2026.