Dunia politik Amerika Serikat dikejutkan oleh kabar duka atas meninggalnya senator senior dari Partai Republik, Lindsey Graham, pada usia 71 tahun. Berdasarkan informasi resmi dari kantornya, sang legislator mengembuskan napas terakhirnya di kediamannya di kawasan Capitol Hill, Washington D.C., setelah berjuang melawan penyakit yang datang secara tiba-tiba.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Pihak dinas darurat setempat melaporkan bahwa petugas medis sempat melakukan tindakan CPR sebelum akhirnya senator asal South Carolina tersebut dinyatakan mengalami henti jantung pada malam hari. Kabar mengejutkan ini langsung mengguncang sekutu politiknya, termasuk Presiden Donald Trump yang memberikan penghormatan terakhir melalui media sosial.
Menurut pantauan redaksi dari siaran "Face the Nation with Margaret Brennan", rekan sejawatnya dari South Carolina, Senator Tim Scott, menyampaikan rasa duka yang mendalam atas kepergian sahabatnya. "Amerika tentu saja telah kehilangan seorang negarawan. Saya telah kehilangan seorang teman," ujar Tim Scott dalam wawancara tersebut.
Tim Scott juga menambahkan dugaan mengenai penyebab kematian sang senator senior yang telah mengabdi selama 31 tahun di Kongres tersebut. "Dugaan saya itu adalah serangan jantung, tetapi saya tidak ingin mendahului informasi resmi. Namun, dari apa yang saya dengar dari orang-orang di lingkaran terdekat, tampaknya itu adalah serangan jantung," ungkapnya.
Berdasarkan pengamatan tim redaksi, Lindsey Graham baru saja kembali dari kunjungan dinas ke Kyiv untuk bertemu dengan Presiden Volodymyr Zelenskyy guna membahas ketegangan dengan Russia. Kepergian sosok ikonik ini diprediksi akan mengubah peta politik menjelang pemilihan umum November mendatang, di mana posisi sementaranya akan diisi oleh penunjukan dari Gubernur South Carolina.