Tim nasional Inggris menjadi salah satu fenomena paling menarik sepanjang gelaran Piala Dunia 2026. Meskipun gaya permainan tim berjuluk The Three Lions ini dinilai belum sepenuhnya meyakinkan dan atraktif, mereka secara mengejutkan terus melaju hingga babak semifinal. Berdasarkan hasil pertandingan terbaru di fase perempat final pada Minggu, 12 Juli 2026 dini hari WIB, Inggris sukses menyingkirkan Norwegia dengan skor ketat 2-1 melalui babak tambahan waktu.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Kemenangan krusial ini memastikan langkah anak asuh Thomas Tuchel untuk menantang sang juara bertahan, Argentina, di babak semifinal yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 16 Juli 2026 mendatang. Dari pantauan redaksi, kepastian tiket semifinal tersebut didapat setelah para pemain Inggris tampil sangat solid dalam meredam agresivitas lini depan tim asuhan Solbakken, terutama pada paruh kedua pertandingan.
Menurut pengamatan tim redaksi, skuad Inggris menunjukkan kematangan mental yang luar biasa untuk keluar dari tekanan dominasi penguasaan bola lawan. Kedisiplinan tinggi ini membuat Harry Kane dan kolega tetap mampu menjaga fokus serta kendali permainan, hingga akhirnya momentum kemenangan tersebut dikunci lewat gol penentu yang lahir dari aksi Jude Bellingham.
Menanggapi fenomena tersebut, pengamat sepak bola sekaligus konten kreator dari @Analiskampungsebelah, Hamid Anwar, memberikan analisisnya mengenai ketangguhan taktik The Three Lions. "Inggris sering dikritik, mereka menunjukkan kedisiplinan taktis dan efektivitas penyelesaian akhir yang baik," ujar Hamid dalam sebuah sesi siniar. Ia menambahkan bahwa taktik pressing agresif Tuchel sukses mengisolasi pergerakan striker ganas Erling Haaland.
Kendati berhasil melangkah jauh, sang manajer Thomas Tuchel secara terbuka mengaku belum merasa puas dengan performa anak asuhnya di lapangan. Pelatih asal Jerman tersebut menilai performa anak asuhnya masih kerap diwarnai kesalahan teknis yang tidak perlu. "Hasilnya fantastis, tetapi saya tidak senang dengan performanya. Kami mempersulit diri sendiri. Kami terlalu ceroboh, tidak cukup cepat, dan terlalu banyak kehilangan bola," ungkap Thomas Tuchel seperti dikutip dari BBC.
Sejak awal turnamen akbar ini bergulir, Thomas Tuchel sebenarnya berambisi besar untuk menanamkan identitas permainan modern yang dominan. Mantan pelatih Chelsea tersebut ingin Inggris menguasai aliran bola, menekan pertahanan lawan secara agresif, serta membangun serangan rapi lewat kombinasi umpan pendek demi memancing ruang kosong di sektor sayap luar.
Strategi tersebut sempat diperlihatkan Inggris pada menit-menit awal laga saat berhadapan dengan tembok pertahanan rapat Norwegia yang mengusung formasi solid 4-5-1. Walau belum mampu menyajikan estetika sepak bola terbaiknya, kekuatan pragmatis berbasis data analitik komputer Opta pun tetap memfavoritkan Inggris untuk melaju ke partai puncak dengan persentase peluang mencapai 50,94 persen.