Kabayan55 Kabayan55
/home / olahraga / Analisis Timnas Spanyol di Piala...
OLAHRAGA

Analisis Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026: Belum Maksimal dan Butuh Solusi

Pemain Barcelona Pau Cubarsi saat membela Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026

Pemain Barcelona Pau Cubarsi saat membela Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026

Perjalanan Timnas Spanyol di fase pertama Piala Dunia 2026 sejauh ini masih bisa dikatakan biasa-biasa saja dan kurang meyakinkan. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, skuad La Roja baru menunjukkan performa yang benar-benar apik selama setengah pertandingan, tepatnya pada laga kedua fase grup saat menumbangkan Arab Saudi. Selebihnya, mereka mengawali turnamen dengan buruk saat bersua Tanjung Verde dan hanya mengandalkan aksi individu Lamine Yamal di menit-menit akhir untuk menyelamatkan wajah tim.

Bahkan pada laga kontra Uruguay, Spanyol kembali menampilkan permainan yang buntu dan kurang menarik. Dari pantauan redaksi, tim besutan Luis de la Fuente tersebut hanya memanfaatkan jam terbang mereka serta blunder fatal dari penjaga gawang Fernando Muslera demi mengamankan status juara grup. Spanyol melaju ke babak gugur tanpa kecemerlangan taktik yang berarti dan dengan kualitas permainan yang masih sangat minim.

Menurut jurnalis Alfredo Martínez, publik sepak bola Spanyol kini hanya bisa berharap agar performa tim nasional mereka terus meningkat di babak gugur, layaknya grafik yang menanjak. Publik rindu melihat kembali versi La Roja yang sukses menguasai Eropa pada ajang Euro di Jerman lalu. Saat itu, Spanyol yang mengandalkan dua penyerang sayap lincah, Lamine Yamal dan Nico Williams, mampu menyapu bersih kemenangan sekaligus membawa angin segar bagi sepak bola dunia.

Kala itu, De la Fuente dinilai sangat piawai dalam memeras kemampuan terbaik dari para pemainnya. Nama-nama seperti Nico Williams, Lamine Yamal, Pedri sebelum cedera, Martin Zubimendi, Dani Olmo, Dani Carvajal, Mikel Merino, hingga Mikel Oyarzabal mampu menembus level permainan tertinggi mereka. Spanyol kala itu bertransformasi menjadi tim yang bermain dengan penuh kegembiraan, berani, serta tampil dominan, tidak peduli siapa pun lawannya, baik itu Inggris, tuan rumah Jerman, maupun Prancis yang diperkuat Kylian Mbappé.

Karena standar tinggi yang sudah mereka tetapkan di Euro itulah, banyak pihak kini kesulitan mengenali identitas Spanyol di Piala Dunia 2026. Meski kondisi turnamen kali ini jauh berbeda dibanding Euro—mulai dari faktor cuaca, perbedaan zona waktu, hingga jarak perjalanan yang jauh di Amerika Serikat—tuntutan agar tim ini tampil lebih meledak-ledak tetap tidak bisa dihindari.

Beberapa pemain kunci Spanyol disinyalir tiba di turnamen ini dengan kondisi fisik dan persiapan yang belum mencapai 100 persen. Sang pelatih tampaknya terlalu berjudi dengan memanggil beberapa nama yang belum fit sepenuhnya. Dari pantauan redaksi, praktis hanya Lamine Yamal yang terlihat terus mengalami peningkatan kebugaran dan diharapkan bisa menjadi tumpuan utama pada laga-laga krusial mendatang.

Di sisi lain, beberapa bintang Barcelona tampak belum berada di posisi ternyaman mereka. Pedri misalnya, ia dipaksa bermain terlalu jauh dari area asalnya untuk melakukan tekanan, yang membuatnya terkuras secara fisik dan jarang terlibat dalam alur serangan. Sementara itu, Dani Olmo justru kurang dimanfaatkan. Padahal setelah tampil gemilang melawan Arab Saudi, ia malah dicadangkan enam hari kemudian, meski kehadirannya dari bangku cadangan terbukti langsung menghidupkan permainan tim.

Nasib kurang beruntung juga menimpa Gavi yang sempat dipaksakan bermain sebagai penyerang sayap pada laga pembuka—sebuah peran yang dinilai kurang cocok dengan karakter aslinya—sebelum akhirnya ditepikan ke bangku cadangan. Sementara Ferran Torres harus membayar mahal performa buruknya di laga perdana. Meskipun terus mendapatkan peluang di depan gawang, ia masih membutuhkan suntikan kepercayaan diri agar keran golnya kembali terbuka. Di sektor belakang, Eric García yang tampil konsisten di level klub juga belum mendapatkan kesempatan unjuk gigi.

Dari semua pemain, satu-satunya sosok yang terus menjaga level permainan impresifnya adalah Pau Cubarsí. Berdasarkan performa apiknya di lini pertahanan, Cubarsí bahkan sukses masuk ke dalam jajaran sebelas pemain terbaik di fase grup. Turnamen ini menjadi panggung penegasan bagi bek asal gironí tersebut di level internasional. Performa matangnya membuat banyak orang lupa bahwa ia, sama seperti Lamine Yamal, baru menginjak usia 19 tahun.

Kini, saat kompetisi memasuki fase yang penuh risiko dan jalan menuju trofi kian terjal bagi tim-tim favorit seperti Jerman, Belanda, hingga Brasil, De la Fuente disarankan untuk mengubah strategi. Tidak ada salahnya jika para pemain yang sukses menjuarai liga bersama Barcelona diberikan peran yang lebih sentral dan ruang yang lebih besar di dalam tim. De la Fuente pernah membuktikan formula ini berhasil di masa lalu, dan kini publik menunggu apakah ia mampu menemukan kembali sentuhan emasnya di Amerika Serikat.

// TOPICS
#timnas_spanyol #piala_dunia_2026 #barcelona #luis_de_la_fuente #pau_cubarsi #lamine_yamal #sepak_bola_internasional
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan55 adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terpercaya. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas dari Jakarta Selatan.