Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menahan Bupati Langkat Syah Afandin setelah menjalani rangkaian pemeriksaan intensif di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan. Berdasarkan pantauan redaksi di lokasi, sang bupati keluar dari ruang pemeriksaan pada Sabtu (4/7/2026) dini hari sekitar pukul 01.30 WIB dengan pengawalan ketat petugas.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Dari hasil pengamatan tim redaksi, Syah Afandin keluar dengan mengenakan rompi oranye khas tahanan KPK bernomor 187. Kedua tangannya juga tampak terikat borgol. Kendati demikian, alih-alih tertunduk malu, Syah Afandin justru melempar senyum lebar ke arah awak media yang telah menunggunya di area lobi gedung komisi antirasuah tersebut.
Sejumlah pengawal tahanan langsung sigap mengawal ketat langkah sang bupati menuju mobil tahanan yang sudah bersiap. Sembari berjalan menyusuri kerumunan jurnalis, Syah Afandin sempat menanggapi beberapa cecaran pertanyaan terkait Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang menjerat dirinya.
Menurut keterangan Syah Afandin saat ditanya mengenai adanya pihak internal yang membocorkan informasi operasi senyap tersebut, ia langsung membantahnya. "Enggak ada," jawab Syah Afandin singkat kepada para wartawan.
Wartawan kemudian kembali mencecar alasannya kembali lebih cepat dari acara Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) pada malam penangkapan. Syah Afandin berdalih bahwa kegiatannya di sana memang telah selesai. "Memang sudah habis acaranya," katanya berkilah.
Ketika tim liputan menawarkan kesempatan untuk menyampaikan pesan atau permohonan maaf kepada publik masyarakat Langkat, ia secara halus menolak kesempatan tersebut. "Enggak, terima kasih, terima kasih," ujarnya sembari terus berjalan.
Dari pantauan redaksi, sikap ramah dan senyuman Syah Afandin langsung berubah drastis saat wartawan menyinggung substansi perkara dugaan suap pengadaan seragam sekolah serta jatah proyek. Syah Afandin langsung bungkam dan tidak merespons sama sekali hingga memasuki mobil tahanan terkait dugaan memperdagangkan jabatan kepala sekolah tersebut.