Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa mereka telah menyelesaikan gelombang serangan udara terbaru yang menargetkan sejumlah instalasi militer strategis milik Iran. Berdasarkan pantauan redaksi, operasi militer skala besar ini diluncurkan atas perintah langsung dari Presiden AS Donald Trump. Langkah agresif ini diambil Washington dengan dalih untuk melemahkan kemampuan militer Teheran yang dianggap mengancam jalur pelayaran komersial internasional.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menurut pernyataan resmi dari CENTCOM, rentetan serangan yang berlangsung selama lima jam tersebut berhasil menghantam berbagai target militer di wilayah selatan Iran. Beberapa kawasan pertahanan utama yang menjadi sasaran empuk armada tempur AS meliputi Bushehr, Chah Bahar, Jask, Konarak, Abu Musa, hingga pusat pelabuhan penting di Bandar Abbas. Pasukan Amerika Serikat dilaporkan mengerahkan amunisi berpemandu presisi tingkat tinggi untuk melumpuhkan target operasional secara akurat.
Berdasarkan data yang dirilis pihak komando, objek vital yang dihancurkan dalam operasi tersebut mencakup sistem pertahanan pantai Iran, situs peluncuran rudal, markas drone, serta pangkalan kemampuan maritim mereka. Guna mengantisipasi eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan bergolak tersebut, CENTCOM kini telah menyiagakan kekuatan penuh di lapangan. "Lebih dari 50.000 anggota militer AS saat ini ditempatkan di seluruh Timur Tengah. Pasukan Amerika tetap waspada, mematikan, dan siap," tulis CENTCOM dalam rilis resminya.
Dari pengamatan tim redaksi, eskalasi bersenjata ini terjadi hanya berselang beberapa jam setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Washington sedang memperbarui blokade maritim terhadap Iran di kawasan strategis Selat Hormuz. Donald Trump juga sempat mengisyaratkan kebijakan baru yang kontroversial, di mana AS berencana mengenakan biaya keamanan bagi kapal-kapal asing yang melintasi jalur tersebut. Kebijakan unilateral ini dinilai membalikkan komitmen kebebasan navigasi global yang dipegang AS selama ratusan tahun.
Pihak Iran langsung merespons tindakan tersebut dengan meluncurkan serangan balasan yang menargetkan Bahrain serta dua kapal tanker milik Uni Emirat Arab yang tengah melintas di Selat Hormuz. Insiden baku tembak di jalur perdagangan minyak dunia ini dilaporkan telah menewaskan satu orang pelaut dan melukai delapan orang lainnya. Dampak dari memanasnya situasi geopolitik ini langsung memicu gejolak ekonomi global, di mana harga minyak mentah Brent melonjak tajam hingga menembus angka 84 dolar AS per barel pada perdagangan selasa pagi.