Proyek Gas Abadi Blok Masela yang berlokasi di Laut Arafura, Provinsi Maluku, resmi memasuki tahap konstruksi setelah tertunda selama 28 tahun. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa pemerintah memprioritaskan 60 persen dari total hasil produksi gas tersebut untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan data teknis, Proyek Abadi Blok Masela diproyeksikan memiliki kapasitas produksi sekitar 9,5 juta ton liquefied natural gas (LNG) per tahun dan sekitar 35.000 barel kondensat per hari. Fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan pemanfaatan produksi gas tersebut lebih besar untuk sektor domestik dibandingkan dengan porsi ekspor.
"Saya pikir nanti gasnya, 60% minimal untuk memenuhi kebutuhan domestik dan 40% maksimal untuk kita melakukan ekspor," ujar Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat meresmikan Groundbreaking Blok Masela di Lermatang, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku.
Dari pantauan redaksi, gas yang dihasilkan nantinya akan dialokasikan untuk mendukung program hilirisasi nasional. Komoditas ini akan memasok kebutuhan industri pupuk, pembangkit listrik milik PLN, jaringan gas PGN, serta berbagai industri nasional lainnya guna menciptakan nilai tambah ekonomi yang optimal di dalam negeri.
Menurut penjelasan resmi, tahap awal konstruksi pasca-groundbreaking ini akan langsung mencakup pengeboran sumur pengembangan beserta empat sumur lanjutan. Selain itu, pengerjaan juga difokuskan pada pembangunan berbagai fasilitas pendukung seperti pelabuhan, dermaga, hingga proses rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (engineering, procurement and construction/EPC).
Pengamatan tim redaksi menunjukkan momentum groundbreaking ini menjadi tonggak sejarah baru bagi industri hulu migas Indonesia sejak Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract/PSC) ditandatangani pada 1998 silam. Selama hampir tiga dekade, proyek ini terhambat oleh perdebatan panjang mengenai konsep pengembangan kilang di laut (offshore) atau di darat (onshore).
Selain memperkuat ketahanan energi nasional, proyek strategis ini diperkirakan akan memberikan dampak ekonomi yang masif bagi negara. Proyek Abadi Blok Masela diproyeksikan mampu menghasilkan penerimaan negara langsung sekitar US$ 37,8 miliar atau setara Rp 679,64 triliun, serta kontribusi pajak tidak langsung mencapai US$ 6,43 miliar atau sekitar Rp 115,6 triliun selama masa konstruksi dan operasi.
Dari sisi ketenagakerjaan, proyek ini diperkirakan menyerap sekitar 12.000 tenaga kerja langsung selama masa konstruksi dan sekitar 800 hingga 1.000 pekerja saat memasuki tahap operasi. Pemerintah secara tegas meminta operator proyek untuk memprioritaskan tenaga kerja lokal asal Maluku, khususnya dari Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan Kabupaten Maluku Barat Daya.
"Kalau tenaga kerja profesional masih tersedia di tier 1 dan tier 2, ambil dulu dari sini. Jangan sampai masyarakat daerah merasa investasi masuk tetapi mereka tidak diprioritaskan," kata Bahlil menambahkan bahwa sejumlah putra daerah telah disiapkan melalui pendidikan di Akademi Migas milik Kementerian ESDM.