Sebuah analisis mendalam yang diterbitkan oleh media Israel The Jerusalem Post menyoroti laporan mengenai dugaan rencana badan intelijen Israel, Mossad, untuk merekrut mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad. Langkah tersebut disinyalir sebagai bagian dari skenario terselubung untuk melakukan perubahan rezim di Iran. Menurut koresponden desk militer Yonah Jeremy Bob, publik kini mempertanyakan apakah kegagalan operasi rahasia itu disebabkan oleh Mossad sendiri atau dipicu oleh keputusan politik Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan pernyataan mantan Kepala Intelijen Militer Israel Tamir Hayman, operasi berskala besar ini sebenarnya sangat bergantung pada peran kelompok Kurdi sebagai tahap awal gerakan. Namun, rencana tersebut dilaporkan buyar setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan meyakinkan Donald Trump bahwa pembentukan atau dukungan terhadap negara Kurdi akan sangat bertentangan dengan kepentingan nasional Turki. Dari pantauan redaksi, intervensi diplomatik Ankara inilah yang diduga membuat Trump membatalkan operasi sebelum seluruh rencana dieksekusi.
Menurut sumber internal yang dikutip dalam analisis tersebut, pihak Amerika Serikat dan Israel sebelumnya berniat menggunakan pasukan Kurdi di Irak dan Iran sebagai ujung tombak operasi darat untuk menggulingkan pemerintahan Teheran. Skenario ini mirip dengan strategi yang digunakan saat menjatuhkan Saddam Hussein di Irak pada tahun 2003 silam. Rencana tersebut awalnya akan disokong penuh oleh zona larangan terbang, serangan udara masif, serta pasokan persenjataan canggih dari Amerika Serikat dan Israel.
Dari pengamatan tim redaksi, laporan spekulatif ini juga membeberkan bahwa kelompok Kurdi sempat menerima pelatihan militer dan pasokan senjata, termasuk persenjataan yang sebelumnya disita oleh militer Israel dari Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon. Kendati demikian, hingga kini masih terjadi perdebatan sengit di internal intelijen mengenai alasan pasti Donald Trump menghentikan operasi. Sebagian pihak menuding adanya kebocoran informasi dari pejabat Washington kepada Erdogan sehingga memberikan waktu bagi Ankara untuk melobi Gedung Putih.