Dalam acara pelantikan resminya sebagai Presiden FC Barcelona untuk masa jabatan lima tahun ke depan, Joan Laporta secara mengejutkan mengumumkan peluncuran proyek audiovisual terbaru bernama "Barça Play". Dari pantauan redaksi, pengumuman ini langsung memicu gelombang antusiasme tinggi di kalangan pendukung Blaugrana yang merindukan tayangan sepak bola usia muda secara komprehensif.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan analisis jurnalis senior Jaume Marcet, inisiatif untuk memperkuat konten orisinal melalui siaran langsung sepak bola usia muda merupakan langkah yang sangat tepat. Suporter setia FC Barcelona selalu menuntut pihak klub agar mampu menyajikan konten eksklusif yang berbeda dari media massa pada umumnya, terutama yang menyoroti perkembangan para talenta muda di akademi mereka.
Sebelum "Barça Play" diumumkan, para penggemar telah melewati berbagai dinamika media internal klub. Menurut catatan sejarah penyiaran klub, Canal Barça pertama kali dibuka pada tahun 1999 di Vía Digital, lalu bertransformasi menjadi Barça TV pada 2003, berkembang menjadi Barça TV+ dan Barça Studios, hingga melahirkan platform Barça One. Kehadiran inovasi terbaru ini diharapkan mampu mengulangi kesuksesan saluran terdahulu.
Melalui platform baru ini, Joan Laporta memastikan bahwa para anggota klub dapat menyaksikan pertandingan akademi La Masia dan sektor olahraga lainnya secara gratis, kecuali untuk laga yang hak siarnya telah terjual ke stasiun televisi lain. Tim redaksi mengamati bahwa tantangan terbesar dari proyek ini adalah menjaga keseimbangan antara biaya produksi penyiaran dengan kepuasan layanan yang diterima oleh para anggota.
Langkah ini dinilai sangat strategis mengingat tidak semua pendukung memiliki kesempatan untuk datang langsung ke Ciutat Esportiva atau Palau Blaugrana. Melalui "Barça Play", para penggemar kini bisa kembali menyaksikan pertumbuhan bakat-bakat muda seperti Hugo Galdeano, David Moreno, Enzo Pérez, Héctor Asumu, Artem Rybak, Orian Goren, hingga Ebrima secara reguler, layaknya saat mereka memantau generasi Lamine Yamal, Fermín, dan Gavi di masa lalu.