Kabayan55 Kabayan55
/home / berita / Warga Georgia Dipaksa Jual Rumah...
BERITA

Warga Georgia Dipaksa Jual Rumah Demi Pasok Listrik Pusat Data AI

Proyek pembangunan jalur transmisi listrik Georgia Power untuk pasokan pusat data AI

Proyek pembangunan jalur transmisi listrik Georgia Power untuk pasokan pusat data AI

Rencana pembangunan jalur transmisi baru oleh perusahaan utilitas raksasa Georgia Power memicu kontroversi besar di kalangan masyarakat. Berdasarkan pantauan redaksi, proyek infrastruktur kelistrikan ini dirancang demi menyokong kebutuhan daya pusat data (data center) yang melonjak drastis akibat tren kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Langkah ekspansi tersebut memaksa sejumlah pemilik rumah di Georgia menghadapi dilema berat antara menjual properti mereka secara sukarela atau membiarkan pemerintah menyitanya.

Menurut penjelasan resmi dari Georgia Power, melonjaknya permintaan daya listrik telah melampaui kapasitas jaringan yang ada saat ini. Pihak korporasi memperkirakan sekitar 70 hingga 80 persen pasokan energi dari jalur transmisi baru ini akan dialokasikan khusus untuk melayani pusat data AI, sementara sisanya yang berkisar antara 20 sampai 30 persen baru akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan komersial serta residensial warga lokal yang terus bertumbuh.

Berdasarkan pengamatan tim redaksi, proses pembangunan proyek masif ini menuntut pengambilalihan lebih dari 300 bidang tanah, termasuk beberapa kawasan pemukiman warga. Salah satu properti yang terdampak adalah rumah masa kecil milik Ansley Brown yang dibangun sejak dirinya berusia lima tahun. Dirinya menyatakan kekecewaannya karena warisan properti yang direncanakan sang ibu sebagai kekayaan lintas generasi kini harus direnggut demi kepentingan industri.

Menurut penuturan Ansley Brown kepada CBS News, ibunya terpaksa menyetujui kesepakatan penjualan dengan Georgia Power karena adanya ancaman penerapan mekanisme eminent domain. Prosedur hukum tersebut memungkinkan penyitaan properti pribadi demi kepentingan publik dengan memberikan kompensasi tertentu. "Bagi kami ini adalah pencurian. Ini benar-benar sebuah perusahaan bernilai miliaran dolar yang mencuri tanah dari masyarakat kecil yang tidak memiliki kemampuan finansial untuk melawan," ujar Ansley Brown.

Menanggapi tuduhan tersebut, juru bicara Georgia Power, Holly Lovett, berdalih bahwa penerapan aturan eminent domain selalu menjadi pilihan terakhir yang dihindari oleh pihak perusahaan. Menurut klaim sepihak korporasi, proses negosiasi telah berjalan dengan transparan dan itikad baik. Namun, dari pantauan redaksi melalui media sosial, Ansley Brown mulai menyuarakan gerakan penolakan di platform TikTok untuk menggalang solidaritas bagi warga lain yang mengalami tekanan serupa.

Hingga saat ini, Georgia Power menolak untuk merilis daftar identitas dari pemilik proyek pusat data AI yang berada di balik pembangunan jalur transmisi tersebut dengan alasan keamanan serta keselamatan. Meskipun Ansley Brown menyadari bahwa rumahnya tidak dapat diselamatkan lagi, dirinya dan pihak keluarga tetap menuntut permohonan maaf secara terbuka dari Georgia Power atas tindakan intimidasi yang mereka terima selama setahun terakhir.

// TOPICS
#georgia_power #data_centers #artificial_intelligence #eminent_domain #krisis_energi #amerika_serikat
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan55 adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terpercaya. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas dari Jakarta Selatan.