Ketajaman Lionel Messi seolah tidak memudar meski telah menginjak usia 39 tahun. Berdasarkan catatan kompetisi terkini, torehan tujuh gol dari empat pertandingan di Piala Dunia 2026 menjadi bukti sahih bahwa pemain berjuluk "La Pulga" tersebut masih menjadi momok yang sangat menakutkan bagi lini pertahanan lawan mana pun. Dari pantauan redaksi, Messi selalu berhasil menemukan celah untuk mencetak gol, baik saat bermain sejak menit awal maupun ketika turun sebagai pemain pengganti.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Ketangguhan mental dan taktik Argentina kembali teruji ketika menghadapi Cape Verde di babak 32 besar. Tim lawan yang menerapkan strategi bertahan super disiplin sempat membuat Lionel Messi kewalahan untuk memasuki sepertiga akhir lapangan pertandingan. Namun, melalui pengamatan tim redaksi, koordinasi apik saat jeda antarbabak antara instruksi pelatih Lionel Scaloni dan komunikasi cerdas Messi di lapangan berhasil memecahkan kebuntuan tersebut.
Momen krusial tercipta ketika umpan langsung yang dilepaskan oleh Lisandro Martinez berhasil memecah tembok pertahanan ketat Cape Verde. Lionel Messi yang lolos dari pengawalan langsung mengontrol bola di dalam kotak penalti dan mengonversinya menjadi gol kemenangan. Melihat dominasi luar biasa ini, muncul sebuah pertanyaan besar di kalangan pencinta sepak bola mengenai siapakah sosok yang benar-benar mampu menghentikan laju sang megabintang.
Berdasarkan catatan sejarah sepak bola dunia, jawabannya merujuk pada memori belasan tahun silam. Jauh sebelum gelaran Piala Dunia 2026, tepatnya pada bulan Juli 2011 di Stadion Brigadir Jenderal Estanislao Lopez, tim nasional Kolombia berhasil melakukan hal yang dianggap mustahil tersebut. Menurut laporan dari The Athletic, momen itu terjadi dalam laga penyisihan grup Copa America ketika Argentina sedang berada dalam tekanan besar setelah sebelumnya ditahan imbang oleh Bolivia.
Saat itu, Lionel Messi yang baru berusia 24 tahun tengah berada di masa keemasannya setelah mengantarkan Barcelona menjuarai Liga Champions dan dalam jalur merengkuh gelar Ballon d'Or ketiganya secara beruntun. Kendati demikian, performa impresifnya di level klub gagal direplikasi saat berseragam Albiceleste. Hal ini tidak lepas dari peran krusial seorang gelandang bertahan Kolombia yang ditugaskan khusus untuk menempel ketat dirinya.
Sosok peredam tersebut adalah Carlos Sanchez, seorang pemain yang kala itu kurang begitu dikenal luas bahkan di negara asalnya sendiri. Melalui disiplin posisi yang sangat ketat, organisasi permainan yang rapi, serta kerja sama lini bertahan Kolombia yang solid, Sanchez sukses membuat frustrasi sang megabintang sepanjang laga. Berkat penampilan gemilangnya yang memaksa Argentina bermain imbang 0-0, Carlos Sanchez kemudian mendapatkan julukan terhormat sebagai "Anti-Messi".