Gelaran Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada kini telah memasuki fase krusial di babak akhir. Setelah Spanyol berhasil menumbangkan Prancis untuk mengamankan tiket pertama ke babak final, malam ini giliran Inggris dan Argentina yang akan saling berhadapan. Kedua tim raksasa tersebut akan memperebutkan satu tiket tersisa demi menyusul Spanyol di partai puncak.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan pantauan redaksi sebelum pertandingan semifinal dimulai, pihak pelatih maupun para pemain dari kedua kubu sebenarnya telah mencoba untuk meredakan suasana serta tensi yang berkembang di luar lapangan. Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, bersama para penggawa Inggris menegaskan bahwa laga ini murni merupakan pertandingan sepak bola, meskipun atmosfer di kalangan pendukung dan publik kedua negara tetap terasa sangat panas.
Persaingan antara Inggris dan Argentina memang selalu melibatkan sejarah yang kompleks di luar lapangan hijau. Selain ingatan kolektif tentang gol kontroversial "Tangan Tuhan" milik Diego Maradona pada Piala Dunia 1986, hubungan kedua negara juga diwarnai oleh konflik geopolitik Kepulauan Falkland (Malvinas). Wilayah kepulauan yang berada di dekat Argentina tersebut saat ini berstatus di bawah kekuasaan Inggris, namun tetap diklaim secara sah oleh pihak Argentina.
Ketegangan ini semakin dipertegas oleh pernyataan kontroversial dari Wakil Presiden Argentina, Victoria Villarruel, menjelang pertandingan dimulai. Melalui pesan yang diunggah di akun media sosialnya, Villarruel menulis, "Kita bermain melawan para bajak laut perampas. Ini bukan sekadar pertandingan biasa. Saya tidak akan bersikap politis atau bersikap dingin, melawan Inggris selalu menjadi sesuatu yang lebih. Ini tentang Malvinas, ini tentang Diego, ini adalah laga terakhir Leo, dan ini tentang menghentikan para penjajah. Maju terus Argentina! Karena hingga napas terakhir, kami akan menuntut apa yang menjadi milik kami!"
Menurut laporan dari jurnalis Argentina, Gaston Edul, Lionel Scaloni berencana melakukan perubahan taktis di lini depan timnya. Nico Gonzalez diprediksi akan turun sebagai starter dalam laga semifinal kontra Inggris ini. Penyerang sayap yang musim lalu menghabiskan masa pinjaman di Atletico Madrid tersebut kemungkinan besar akan dipasang untuk menggantikan posisi Rodrigo de Paul atau Enzo Fernandez.
Pemain berusia 28 tahun itu tercatat belum pernah menjadi starter dalam 6 pertandingan yang sudah dilakoni Albiceleste sepanjang turnamen ini. Kendati demikian, performa impresif serta kontribusi positif yang ia tunjukkan pada babak perpanjangan waktu saat melawan Swiss menjadi alasan kuat bagi tim kepelatihan untuk mempercayainya tampil sejak menit pertama.
Dari kubu lawan, tim nasional Inggris di bawah asuhan Thomas Tuchel juga tengah mempersiapkan strategi matang untuk menghadapi laga bersejarah ini. Komposisi pemain utama pilihan Tuchel sebenarnya tergolong konsisten di sepanjang turnamen, kecuali pada posisi bek sayap kanan. Cedera yang dialami Reece James serta kartu merah yang diterima Quansah saat melawan Meksiko sempat memaksa pelatih asal Jerman tersebut melakukan eksperimen dengan menempatkan Konsa di posisi bek kanan saat menghadapi Norwegia.
Kini, kondisi Reece James dilaporkan sudah berangsur pulih dan sempat mendapatkan menit bermain dari bangku cadangan pada laga perempat final lalu. Tim redaksi mengamati bahwa fokus utama Tuchel saat ini adalah memastikan apakah kapten Chelsea tersebut sudah cukup bugar untuk tampil penuh selama 90 menit, atau apakah dirinya harus kembali meramu strategi alternatif di sektor pertahanan sebelah kanan.
Di tempat lain, suasana kontras menyelimuti tim nasional Prancis. Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) baru saja mengunggah momen peringatan keberhasilan mereka merengkuh trofi Piala Dunia 2018, yang tepat hari ini memasuki ulang tahun kedelapan sejak kemenangan 4-2 atas Kroasia pada 15 Juli 2018 silam. Namun, unggahan nostalgia tersebut justru terasa hambar dan dipenuhi kekecewaan menyusul kekalahan mereka dari Spanyol di babak semifinal baru-baru ini.
Skuad "Les Bleus" harus menerima kenyataan pahit setelah disingkirkan oleh anak asuh Luis de la Fuente melalui permainan yang dinilai kalah kelas. Kegagalan ini sekaligus mengubur mimpi Prancis untuk bisa mencapai babak final Piala Dunia dalam tiga edisi secara berturut-turut.
Kritik tajam pun langsung mengalir deras dari publik Prancis pasca-kekalahan tersebut. Jurnalis senior RMC Sport, Daniel Riolo, memberikan komentar pedas yang ditujukan khusus kepada Michael Olise. "Kita semua seperti sedang mabuk. Kita sempat menyejajarkan Olise di meja yang sama dengan Zidane dan Platini, padahal dia bahkan belum layak berada di dapur," ujar Riolo dengan nada kecewa. Media ternama L'Equipe bahkan memberikan nilai buruk 2 dari 10 untuk performa sang pemain di lapangan.
Sementara itu, atmosfer kegembiraan justru sedang menyelimuti Spanyol. Tiga legenda hidup sepak bola Spanyol, Sergio Ramos, Iker Casillas, dan Xavi Hernandez, dilaporkan sempat berkumpul bersama demi memberikan dukungan moril secara langsung kepada skuad La Roja menjelang laga penting mereka.
Keberhasilan menembus partai final membuat Spanyol semakin dekat untuk mewujudkan impian mereka merengkuh bintang kedua di jersey timnas. Setelah menyajikan performa yang dinilai hampir sempurna di laga semifinal, para pemain Spanyol tampak merayakan kemenangan tersebut dengan penuh euforia bersama staf kepelatihan.
Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, secara khusus menyampaikan apresiasi mendalam kepada para pendukung setia La Roja. "Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para penggemar yang telah memberikan dukungan luar biasa bagi kami. Saya merasa sangat bangga," ungkap De la Fuente. Ia juga menambahkan, "Teruslah mendukung dan mendorong kami, karena kami sangat membutuhkan energi positif itu. Kini tersisa satu langkah terakhir yang paling sulit."
Popularitas bintang muda Spanyol, Lamine Yamal, juga kian mendunia menyusul performa apiknya di atas lapangan. Berdasarkan pengamatan dari berbagai platform digital, para penggemar di wilayah Gaza bahkan turut merayakan kemenangan Spanyol dengan berfoto mengenakan jersey milik Lamine Yamal pasca-laga kontra Prancis.
Namun, kabar kurang sedap sempat datang dari lingkungan keluarga sang pemain. Pada Selasa dini hari waktu setempat, dua orang tidak dikenal dilaporkan mencoba membobol kediaman pribadi Lamine Yamal di saat sang penyerang tengah fokus membela negaranya di atas lapangan hijau melawan Prancis.
Menurut laporan dari media lokal La Vanguardia, kamera pengawas (CCTV) di area properti berhasil menangkap visual dua orang mencurigakan yang sedang berupaya memanjat salah satu dinding pembatas rumah yang terletak di kawasan Esplugues de Llobregat tersebut.
Beruntung, tim keamanan yang berjaga di lokasi bertindak cepat mengaktifkan protokol keselamatan sehingga aksi pembobolan tersebut berhasil digagalkan sebelum pelaku masuk ke dalam rumah. Tak lama berselang, beberapa patroli kepolisian dari satuan Mossos d'Esquadra langsung tiba di lokasi kejadian untuk melakukan olah TKP dan penyelidikan lebih lanjut.