Sebuah operasi penangkapan pengedar narkotika jenis sabu di Desa Tumbang Kalemei, Kalimantan Tengah, berakhir tragis dan berdarah. Berdasarkan informasi resmi pihak kepolisian, seorang petugas dilaporkan meninggal dunia dan dua personel lainnya masih dinyatakan hilang. Merespons insiden mematikan ini, Badan Reserse Kriminal atau Bareskrim Kepolisian Mabes Polri menegaskan akan turun tangan secara langsung guna mengungkap jaringan narkotika tersebut hingga ke akarnya.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Eko Hadi Santoso mengonfirmasi bahwa Aipda Yudhie Perdana Putra tewas akibat serangan senjata tajam saat operasi berlangsung. Selain menjatuhkan korban jiwa, dari pantauan redaksi, dua petugas kepolisian lainnya yakni Aiptu Sumaryanto dan Bripda Nopandri Ramadhana masih belum ditemukan setelah dilakukan pencarian intensif selama dua malam berturut-turut.
"Kami akan melakukan dukungan penuh terhadap jajaran di lapangan, baik dalam proses pencarian anggota yang belum ditemukan, pengamanan wilayah, maupun pengungkapan tuntas jaringan narkotika dan pelaku penyerangan terhadap anggota Polri," kata Eko dalam keterangan resmi pada Jumat (3/7).
Menurut penjelasan Eko, tim gabungan saat ini masih memfokuskan diri untuk melakukan penyisiran demi mencari keberadaan Sumaryanto dan Nopandri. Pada saat yang sama, pengamatan tim redaksi menunjukkan penegak hukum bergerak cepat mendalami keterlibatan para pelaku lokal yang nekat menyerang petugas dalam operasi di Desa Tumbang Kalemei tersebut.
Berdasarkan pemaparan kronologi, operasi tersebut sebenarnya ditargetkan untuk menangkap seorang pengedar berinisial BIO di Desa Tumbang Kalemei. Target operasi ini diketahui merupakan seorang residivis yang kerap kembali mengedarkan sabu setelah sempat mendekam di dalam jeruji besi.
Menurutnya, operasi penegakan hukum tersebut melibatkan 12 petugas kepolisian yang dibagi menjadi dua kelompok terpisah. Sebagian personel bertugas melakukan penyergapan langsung di rumah BIO, sedangkan sisa anggota lainnya bersiaga di lokasi sekitar sebagai unsur pendukung pengamanan.
Namun situasi berubah mencekam setelah target berhasil diamankan. Beberapa orang dari dalam rumah BIO mendadak menyerang menggunakan senjata tajam, yang kemudian memicu warga sekitar ikut menyerang petugas menggunakan senjata api rakitan. Akibat desakan massa yang anarkis, sebagian petugas terpaksa menyeberangi sungai untuk menyelamatkan diri sebelum akhirnya Yudhie ditemukan meninggal dunia dalam kekacauan tersebut.
"Kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhum Aipda Yudhie Perdana Putra yang gugur saat menjalankan tugas memberantas peredaran narkotika," ungkap Eko menambahkan.
Selain menambah tebal jumlah personel di Kalimantan Tengah, Eko berencana melakukan evaluasi menyeluruh terhadap setiap prosedur operasi pemberantasan narkotika di kawasan rawan. Menurutnya, tingkat kesiapan seluruh personel merupakan kunci utama untuk menghadapi berbagai dinamika berbahaya di lapangan karena keselamatan anggota tetap menjadi prioritas tanpa mengurangi ketegasan hukum.
Berdasarkan data laporan Kantor PBB Urusan Obat-Obatan dan Kejahatan atau UNODC, total barang bukti sabu yang telah disita di wilayah Indonesia pada periode 2018-2024 mencapai 71,36 ton. Mayoritas lonjakan penyitaan terjadi pada tahun 2019 yang menyentuh angka 17,92 ton, sementara pada tahun 2024 total sabu yang disita aparat mencapai 7,65 ton.